Selasa, 12 Maret 2013

Buku Adalah Teman Duduk Yang Paling Baik

Diantara sebab kebahagiaan adalah meluangkan waktu untuk mengkaji, menyampaikan diri untuk membaca, dan mengembangkan kekuatan otak dengan hikmah-hikmah.
            Al-Jahizh menasehatkan untuk senantiasa membaca dan mengkaji agar Anda bisa mengusir kesedihan. Katanya : “Buku adalah teman duduk yang tidak akan memujimu dengan berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu, dan teman yang tidak membuatmu bosan. Ia teman yang sangat toleran yang tidak akan mengusirmu. Dia adalah tetangga yang tidak akan menyakitimu. Dia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengeluarkan apa yang Anda miliki. Dia tidak akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafikan, dan tidak akan membuat kebohongan”.
            Buku adalah sesuatu yang jika Anda pandang maka akan memberikan kenikmatan yang panjang, dia akan menajamkan kemampuan intelektual, membuat lidah tidak kelu, dan membuat ujung jemari semakin indah. Dia akan memperkaya ungkapan-ungkapan Anda, akan menenangkan jiwa, dan akan mengisi dada. Buku akan memberikan “penghormatan orang-orang awam dan persahabatan dengan raja-raja”, kepada Anda. Dengannya Anda akan mengetahui sesuatu hanya dalam sebulan. Satu hal yang tidak bisa Anda dapatkan dari mulut orang selama satu masa. Dengannya, Anda juga bisa menghindarkan hutang dan kesusahan mencari rezeki. Dengan buku, Anda tidak harus bersusah-susah menghadap seorang pengajar yang mencari makan dari honor mengajar, tidak harus belajar dari orang yang secara akhlak lebih rendah dari Anda, dan tidak harus duduk bersama orang-orang yang hatinya penuh kedengkian dan orang-orang yang kaya.
            Buku adalah sesuatu yang akan senantiasa taat baik di siang hari maupun di malam hari. Dan akan ikut saja baik dalam perjalanan maupun ketika berada di rumah. Dia tidak pernah mengantuk, dan tidak akan terkena kelelahan malam. Dia adalah guru yang jika Anda membutuhkannya, maka ia tidak akan merasa malu. Dan jika Anda meninggalkannya untuk ganti materi, maka dia tidak akan memutuskan faedahnya. Walaupun ada angi yang menyerang Anda, maka dia tidak akan berpaling. Kesendirian Anda tidak akan membahayakan selama Anda selalu bersamanya, dan tidak akan memaksa Anda untuk duduk bersama orang-orang yang jelek perangainya. Meskipun tidak ada keutamaan yang bisa Anda ambil, namun ia sudah menghalangi niat Anda untuk duduk di depan pintu rumah, dan melihat orang yang lalu-lalang di depan rumah. Sendiri kita dengan cara melihat orang laing secara berlebihan, ada keterlibatan diri kita dalam sesuatu yang tidak berguna, ada pembauran dengan orang-orang yang tidak berguna, ada kesempatan untuk mendengarkan langsung ucapan-ucapan mereka yang kotor, yang tidak bernilai yang rendah budinya dan yang tidak cerdas.
            Semua ini akan menghindarkan Anda dari segala kemungkinan buruk, dan menghadapkan pada manfaat yang besar. Anda berhasil mendapatkan pokok sekaligus cabangnya. Seandainya yang Anda dapatkan darinya tak lebih dari kegiatan yang menghalangi niat Anda dari keinginan yang murahan, dari keinginan untuk bersenang-senang saja, dan dari main-main yang tidak berarti, maka itu sudah merupakan nikmat yang besar dan karunia yang agung.
            Kita sadar bahwa buku adalah pilihan terbaik bagi orang-orang yang kosong untuk menghabiskan waktu siangnya, dan bagi orang-orang yang suka bersenang-senang untuk menghabiskan malam-malam mereka. Buku adalah sesuatu yang tanpa mereka sadari, memberikan dorongan untuk mencoba, menggunakan nalarnya, membentuk kepribadiannya, menjaga kehormatan mereka, meluruskan agama mereka, dan mengembangkan harta mereka.

Abaikan Kesulitan-nya !

Kesulitan itu, sebenarnya, akan menguatkan hati, menghapuskan dosa, menghancurkan rasa ujub, dan menguburkan rasa sombong. Kesulitan-kesulitan itu, akan meluruhkan kelalaian, menyalakan lentera dzikir, menarik empati sesama, menjadi do’a yang dipanjatkan oleh orang-orang yang shalih, merupakan sebuah penyerahan diri kepada Dzat Yang Esa, merupakan sebuah peringatan dini, sebuah upaya untuk menghidupkan dzikir, merupakan upaya untuk menjaga hati dengan bersabar, merupakan persiapan untuk menghadap Sang Tuhan, dan sebuah sentilan untuk tidak cenderung pada dunia, merasa aman dan tenang dengannya. Karena kelembutan yang tersembunyi itu jauh lebih besar, dosa yang ditutupi itu jauh kebih besar, dan kesalahan yang dimaafkan juga jauh lebih besar.

Jangan Bersedih Karena Rezeki / Rizqi

-->
Yang memberi rizqi itu hanya satu. Seluruh hamba itu berada di sisiNya, dan Dia telah mengatur semuanya. Karena itu tidak ada alasan untuk bersedih dan meratap karena sulitnya mendapat rizqi. Bila rizqi itu terasa sulit didapat itu merupakan ujian kesabaran dari Allah, sabar tidak hamba itu diuji dengan kemiskinannya. Sebab semua hamba itu pasti mendapat jatah rizqi dari Allah.
Seperti yang telah dijelaskan dalam firmanNya : “Dan, di langit terdapat (sebab-sebab) rizqimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu”. (QS.Adz-Dzuriyat : 22).
Jika memang yang memberi rizqi itu adalah Allah, maka mengapa manusia itu harus menjilat dan mengapa harus merendahkan diri di hadapan orang lain hanya karena ingin mendapatkan rezeki dari semua manusia ?.
“Dan, tidak ada suatu binatang melatapun dimuka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizqinya”. (QS.Hud : 6). Dalam firmanNya yang lain disebutkan : “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. Dan apa yang Allah tahan, maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu”. (QS.Fathir : 2).

Jgn Bersedih Jika Mendengar Kata2 Kasar

Tamaklah menghimpun keutamaan, dan tekunlah abaikan celaan si pendengki.
            Ketahuilah bahwa umur itu adalah saat-saat kebaikan diterima dan setelah kematian kedengkian itu terputus dengan sendirinya.
            Seorang ulama kontemporer mengatakan : “Kepada orang-orang yang sangat sensitif terhadap kritikan agar mereka menuangkan apa saja yang ingin kedalam syarafnya pada saat menghadapi kritikan yang pedas dan menyengat !”
            Dikatakan, sungguh hebat Allah menempatkan kedengkian itu, Ia sungguh adil. Berawal dari pertemanan, lalu membunuhnya.
            Al-Mutanabbi mengatakan : “Kenangan seseorang itu adalah umurnya yang kedua, dan keinginannya yang tak kesampaian. Selebihnya adalah kesibukannya”.
            Sahabat Ali ra, mengatakan : “Kematian adalah taman yang taman yang terjaga ketat”.
            Seorang bijak bersatari mengatakan : “Seorang pengecut mati beberapa kali. Sedangkan, pemberani hanya mati sekali”.
            Jika Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba disaat-saat yang tertekan, maka Dia menjadian hamba itu mengantuk sebagai wujud penjagaan dariNya. Hal yang sama pernah terjadi pada diri Thalhah ra, pada saat perang Uhud, sebelum perang dimulai. Karena begitu berat kantuknya sampai-sampai pedang yang dipegangnya jatuh beberapa kali. Itu sebagai wujud ketenangan dan kedamaian di dalam hati.
            Namun ada juga kantuk untuk ahli bid’ah. Syabib ibnu Yazid merasakan kantuk yang tak tertahankan saat ia sedang menunggu seekor baghlah (hewan peranakan kuda dengan keledai). Dia adalah seorang lelaki yang sangat pemberani. Sedangkan istrinya, bernama Ghazalah, adalah seorang perempuan pemberani yang pernah mengusir Al-Hajjaj.
            Seorang penyair mengatakan : “Menjadi singa ketika berhadapan denganku, tapi dalam perang ia menjadi seekor burung yang tak berdaya lari terbirit-birit hanya karena suitan saja.
            Tidakkah engkau keluar menantang Ghazalah yang sombong atau hatimu dengan dua sayapnya akan segera terbang”.
            Allah berfirman : “Katakanlah : “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisiNya atau (azab) dengan tangan kami. Sebab itu tunggulah,sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu”. (QS.At-Taubah : 52).
            Firman-Nya yang lain : “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu. Dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS.Ali Imran : 145).
            Seorang penyair lain berkata : “Pernah aku bilang pada jiwa, namun malah terbang menjadi bayangan pahlawan, celaka engkau, kenapa tidak memperhatikan.
            Jika kau memohon sehari saja diundurkan dari ketetapan ajal, tak akan dipenuhi.
            Bersabarlah mengahadapi maut, bersabarlah toh tak seorang pun mampu menggapai keabadian.
            Pakaian kehidupan itu bukanlah pakaian kekuasaan karena bisa diambil dari seorang saudara yang menginginkan”.
            Singkatnya, syair ini berarti bahwa jika ajal telah datang, maka tidak akan diajukan dan tidak akan diajukan dan tidak akan pula diundurkan walau hanya satu jam.
            Ali bin Abi Thalib mengatakan : “Kapan aku harus lari dari dua hari kematianku, hari yang telah ditentukan ataukah hari yang tidak ditentukan.
            Pada hari yang tidak ditentukan aku tak takut, karena yang telah ditentukan itu tidak bisa diubah dengan kewaspadaan”.
            Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata : “Carilah kematian niscaya kalian akan diberi kehidupan !”.


Bersyukurlah Masih Bisa Berbuat


Berbuat baik untuk  dan kepada orang lain merupakan jalan lebar menuju kebahagiaan. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan : “Di hari kiamat nanti, yakni saat Allah menghisab hambaNya, Dia akan berkata kepadanya : “Wahai anak Adam, Aku lapar namun engkau tidak memberikan makan”. Hamba itu menjawab : “Bagaimana mungkin aku memberiMu makan, sementara Engkau adalah Tuhan semesta alam ?”. Allah berkata : “Tidakkah engkau tahu bahwa hambaKu, si Fulan ibnu Fulan, sedang kelaparan, namun engkau tidak memberinya makan. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya makan, maka engkau akan dapatkan semua itu di sisi-Ku”.
            “Wahai anak Adam, Aku kehausan namun engkau tidak memberi-Ku minum”. Hamba itu menjawab : “Bagaimana mungkin aku bisa memberi-Mu minum sementara Engkau adalah Rabb semesta alam?” Allah berkata : “Tidaklah engkau tahu bahwa hamba-Ku, si Fulan Ibnu Fulan, sedang kehausan, namun engkau tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya minum pasti engkau dapatkan itu di sisi-Ku”.
            “Wahau anak Adam, Aku sakit namun engkau tidak menjengukKu”. Hamba itu menjawab : “Bagaimana mungkin aku bisa menjenguMu sementara Engkau adalah Tuhan semesta alam ?”. Allah berkata : “Tidakkah engkau tahu bahwa Fulan ibnu Fulan sedang sakit, namun engkau tidak menjenguknya. Ketahuilah, seandainya engkau menjenguknya niscaya engkau akan dapatkan Aku disisinya”.
            Ada satu hal yang menarik disini. Dalam firmanNya : “....niscaya engkau akan dapatkan Aku di sisinya......”, berbeda dengan dua sebelumnya : “....engkau akan dapatkan (semua) itu di sisi-Ku.....” Mengapa? Sebab, Allah di hadapan orang yang hatinya hancur tercabik-cabik akan tampak seperti orang sakit.
            Disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah : “Dalam kesulitan itu ada pahala”. Juga harus engkau mengerti bahwa Allah telah memasukkan seorang wanita pezina dari Bani Israel ke dalam surga hanya gara-gara wanita itu memberi minum seekor anjin yang kehausan. Maka, bagaimana dengan orang yang memberi minum dan makan kepada sesama, membantu meringankan beban, dan menghilangkan kesulitan mereka ?.
            Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda : “Barangsiapa memiliki kelebihan bekal, maka hendaknya ia datang dengan bekal itu kepada orang yang tidak memilikinya. Dan barangsiapa memiliki kelebihan kendaraan, maka hendaklah dia datang kepada orang yang tidak memiliki kendaraan.
            Hatim, sang penyair itu, mengatakan : “Jika engkau pemilik unta muda, jangan biarkan sahabatmu berjalan di belakangnya tanpa kendaraan
            Rendahkan kendaraanmu dan naikkan ia jika bisa terbawa. Itu baik adanya. Jika tidak, bergantianlah”.
            Hatim juga pernah berkata kepada seorang pelayannya dalam sebuah rangkaian bait syair yang sangat indah agar mencari seorang tamu. Ia berkata :
            “Nyalakan api, sesungguhnya malam ini sangat dingin, jika ada tamu yang datang, engkau akan bebas merdeka.
            Hatim juga berkata kepada isterinya demikian : Jika selesai membuat makanan, carilah orang yang akan makan, sebab aku tidak akan sanggup memakannya seorang diri”.
            Dia juga pernah berkata seperti ini : “Ketahuilah, sesungguhnya harta itu akan pergi dan sirna.
            Yang tersisa dari harta itu hanyalah pembicaraan dan kenangan.
            Ketahuilah, kekayaan itu tidak ada faedahnya bagi seorang, yakni kala nafas di tenggorokan dan dada tak lagi mampu memuat”.
            Pada kesempatan yang lain dia mengatakan : “Kekayaan tak menambah kebanggaan atas kaum kerabat dan kami tidaklah merasa terhina dengan kekafiran”.
            Ibnul Mubarak pernah memiliki tetangga seorang Yahudi. Namun, ia selalu lebih dahulu memberi makan tetangganya itu sebelum anak-anaknya sendiri. Bahkan, ia selalu memberi pakaian padanya sebelum memberi pakaian anak-anaknya. Ketika orang-orang menawar rumah si Yahudi itu : “Jual saya tempat tinggalmu itu kepada kami !”. Yahudi itu berkata : “Saya akan jual rumahku ini dengan harga dua ribu dinar. Seribu dinar untuk harga rumahku dan seribu lagi karena aku bertetangga dengan Ibnul Mubarak !”. Mendengar jawaban ini, Ibnul Mubarak dalam doanya selalu memohon demikian : “Ya Allah, tunjukilah ia ke dalam Islam !”. Dan beberapa saat kemudian, si Yahudi itupun, dengan izin Allah, akhirnya masuk Islam.
            Saat hendak berangkat haji, Ibnul Mubarak bertemu satu rombongan yang bermaksud sama. Dalam rombongan itu, ia melihat seorang wanita yang mengambil bangkai burung gagak dari sebuah tong sampah. Kemudian dia menyuruh pembantunya untuk melihat apa yang dilakukan wanita itu. Orang suruhannya itu bertanya kepada si wanita tentang apa yang dilakukannya tadi. Si wanita itu menjawab : “Selama tiga hari kami hanya makan dari sisa-sisa makanan yang dibuang kedalam tong sampah”. Karena iba mendengar jawaban itu, Ibnul Mubarak meneteskan air mata. Ia pun memerintahkan agar semua perbekalannya dibagikan kepada rombongan itu. Dan, karena sudah tidak punya bekal lagi maka ia pun pulang. Ia menagguhkan hajinya tahun itu. Dalam tidurnya, ia bermimpi ada orang berkata kepadanya : “Haji yang mabrur, sebuah tindakan yang harus diganjar, dan dosa (mu) telah terampunkan”.
            Seorang penyair mengatakan : “Walaupun aku jauh dari sahabatku, laksana bumi dan langit”.
            Aku akan mengirimkan pertolonganku dan menghapuskan kesulitannya.
            Aku akan jawab seruan dan panggilan suaranya.
            Jika dia memakai pakaian yang indah maka aku tidak akan mengatakan : “Seandainya aku diberi pakaian yang baik dari yang ia pakai”.
            Ya Allah, sungguh sebuah perilaku yang sangat indah. Sungguh sebuah karunia yang sangat agung. Sungguh sebuah budi pekerti yang sangat mengharukan.
            Orang yang senang melakukan kebajikan, tak pernah menyesal meski sangat banyak kebajikan yang telah dikerjakannya. Tetapi ia justru akan menyesal manakala melakukan kesalahan, meski hanya sebuah kesalahan kecil.
            Seorang penyair berkata : “Kebaikan itu lebih abadi, walaupun itu dilakukan sekali dan kejahatan adalah bekal terburuk yang engkau usahakan”.